Sebuah situs pribadi untuk para penggemar novel cerita silat mandarin, dan kumpulan ebook motivasi...
Feb 11, 2011
BU TONG IT KIAM
Feb 4, 2011
ANAK PENDEKAR
Karya : Liang Ie Shen - Disadur : Gan KH

Tentang Judul : Buku ini merupakan cetak ulang Anak Pendekar terbitan Sastra Kumala tahun 1979. Penggantian judul ini hanya mengembalikan ke judul aslinya, yaitu Mu Ye Liu Xing.
Selain terjemahan Gan KH ini, Mu Ye Liu Xing juga diterjemahkan oleh Tjan ID dengan judul Patriot Padang Rumput, Jiwa Ksatria. SD Liong juga menerjemahkan dengan judul Gempa Taruna Pendekar, Darma Taruna Pendekar.
Entah mengapa, SD Liong membagi cerita ini menjadi 2 cerita, yaitu Gempa Taruna Pendekar 28 jilid, dilanjutkan dengan Darma Taruna Pendekar 14 jilid. Dan lebih mengherankan lagi kedua cerita tsb belum tamat, GTP+DTP hanya 2/3 dari Anak Pendekar, jilid terakhir Darma Taruna Pendekar sama dengan Anak Pendekar jilid 31 hal 62.
Anak Pendekar sendiri terdiri dari 47 jilid. Terjemahan Tjan ID malah lebih singkat lagi, Patriot Padang Rumput cuma 13 jilid, sedangkan Jiwa Ksatria cuma 2 jilid. Ini sama dengan sampai jilid 12 hal 9 dari Anak Pendekar.
Jan 21, 2011
Pedang Inti Es
Karya : Liang Ie Shen - Disadur : OKT

Pedang Inti Es ini merupakan bagian dari serial kisah Pendekar Thian San, yang disadur oleh OKT.
Tokoh utama cerita ini adalah Koei Hoa Seng yang adalah CiangBunjin Bu Tong pay Cabang Utara dan ayahnya adalah Koe tiong Beng yang merupakan salah seorang dari Thian San Cit Kiam (7 jago pedang dari Thian san).
Akibat kekalahan yang dialami oleh Pendekar Koei Hoa Seng dalam suatu pibu dengan suami istri ahli waris turunan ke - 4 dari Thian San Pay, telah membuatnya malu dan mendorong dia untuk meninggalkan Tionggoan merantau ke Tibet dan Nepal untuk mencari ilmu silat yang lebih tinggi. Dalam perantauan itu, Koei Hoa Seng yang telah memiliki ilmu silat yang bersumber dari Tat-mo Pit-kip menghadapi berbagai intrik dalam mewujudkan keinginannya untuk menyunting si Gadis Baju Putih misterius yang ternyata adalah Tuan Putri suatu kerajaan .
Ketertarikan dua anak manusia berlainan jenis tumbuh ketika mereka berjuang bersama untuk mendapatkan Kumala Inti Es di Kota Iblis yang ditakuti rakyat Tibet. Perjodohan yang melalui perjuangan berat akhirnya dapat diwujudkan setelah Koei Hoa Seng mampu mengalahkan saingan pemuda-pemuda dari berbagai negara lainnya.
Dua Musuh Turunan (Peng Cong Hiap Eng)
Karya: Liang Ie Shen / Disadur : OKT

Salah satu karya Liang Ie Shen yang terbaik. Yang paling mengesankan dari cersil ini adalah romantismenya. Pendekar dara remaja In Lui, bertemu dan bersahabat dengan pendekar gagah Thio Tan Hong. Pola klasik dara pendekar menyamar pria seperti Ceng-ceng dan Wan Sin-cie (“Kim Coa Kiam”), Oey Yong dan Kwe Ceng (“Sia Tiauw Eng Hiong”), serta puluhan cersil lain.
Ternyata muda-mudi ini sama-sama cucu-murid datuk Hian Ki It Su, hingga bila ilmu pedang mereka dipadukan menjadi dahsyat luar biasa. Malangnya, ternyata kakek In Lui adalah musuh bebuyutan ayah Thio Tan Hong, hingga bagaimana mungkin perjodohan mereka bisa terangkap?
Ayah Thio Tan Hong dikenal sebagai tokoh pintar yang dicap pengkhianat besar karena menjadi Perdana Menteri negeri Watzu (Mongolia). Beliau menyandera duta Kerajaan Beng yang bukan lain daripada kakek In Lui. Duta malang ini diperbudak sebagai pekatik, pencari rumput untuk kuda. Ketika ia berhasil membawa keluarganya lari dari Watzu, tepat di luar Tembok Besar, malah dipaksa minum arak beracun kiriman Raja Ben, kakek In Lui pun tewas mengenaskan setelah menciumi segenggam tanah airnya…
Itulah dendam turunan yang diwarisi anak-cucu si kakek patriot. In Lui mesti patuh pada ayah dan abangnya yang menerima amanat almarhum. Betapa pun tulus cinta In Lui dan Thio Tan Hong, mereka memutuskan tidak bertemu lagi. Tapi takdir terus mengombang-ambingkan hingga memaksa mereka berduet lagi dan lagi menghadapi lawan-lawan tangguh. Bahkan Hek-Pek Mo-Ko (Sepasang Iblis Hitam-Putih) yang tersohor keganasannya pun mampu mereka taklukkan!
Sedikit demi sedikit mulai terungkap, hakekatnya ayah Thio Tan Hong bukan pengkhianat, justru mempunyai tujuan mulia, mencegah bangsa Mongolia menyerbu ke Tionggoan. (sumber : http://hkw-ceritasilat.blogspot.com)
